Login

HomeBeritaSEBUAH KAJIAN PENGELOLAAN LAHAN DAN AIR DINAS PERTANIAN KABUPATEN KEDIRI TENTANG ANTISIPASI MUSIM DALAM BUDIDAYA PERTANIAN DI WILAYAH KABUPATEN KEDIRI

SEBUAH KAJIAN PENGELOLAAN LAHAN DAN AIR DINAS PERTANIAN KABUPATEN KEDIRI TENTANG ANTISIPASI MUSIM DALAM BUDIDAYA PERTANIAN DI WILAYAH KABUPATEN KEDIRI

IMG-20161129-WA0005

Keberhasilan budidaya pertanian tidak hanya tergantung oleh penyediaan sarana dan prasarana (benih, pupuk, pestisida dan alat mesin pertanian) semata, tetapi saat ini yang lebih penting adalah penerapan teknologi pertanian serta penerapan antisipasi iklim dalam berbudidaya pertanian.

 

Fonemena perubahan iklim yang semakin dinamis perlu direspon cepat terhadap budidaya pertanian karena faktor iklim menyumbang hampir 40% keberhasilan budidaya pertanian saat ini. Fonemena global yang mempengaruhi musim di Indonesia adalah La Nina dan El Nino harus menjadi pengetahuan tambahan bagi petani di Kediri dalam berbudidaya. Dapat dijelaskan bahwa fonemena La Nina adalah fonemena perubahan suhu muka laut lebih dingin dari rata-ratanya di Equator Pasifik Tengah, hal ini menyebabkan curah hujan meningkat di Indonesia. Sedangkan El Nino adalah fonemena perubahan suhu muka laut lebih panas dari rata-ratanya di Equator Pasifik Tengah, hal ini menyebabkan curah hujan berkurang di Indonesia.

Dengan memahami fonemena La Nina dan El Nino dalam berbudidaya pertanian maka dapat mengantisipasi perubahan iklim yang terjadi dalam setiap berbudidaya.

Sesuai data informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Karangploso, maka prakiraan pada bulan Desember 2016 ini wilayah Kediri, sebagian kecil meliputi (Kandangan, Pare, Badas, Kras, Kepung) sifat curah hujan Normal antara 201 - 300 mm. Sedangkan pada sebagian besar wilayah Kediri meliputi Papar, Purwoasri dan Plemahan sifat curah hujan Diatas Normal antara 301– 400 mm. Sedangkan wilayah Mojo dan Semen sifat curah hujan Diatas Normal berkisar diatas 500 mm.

Prakiraan pada bulan Januari 2017 hampir sama dengan bulan Desember 2016, sehingga dengan informasi ini petani dapat menerapkan dan mengatur strategi untuk memulai dan menerapkan budidaya pertanian. Sebagai langkah antisipasi maka pada bulan-bulan tersebut petani dapat melakukan budidaya tanaman yang bersifat berkebutuhan air tinggi terutama komoditas family Graminae (padi) dengan menerapkan teknologi Jajar Legowo untuk antisipasi serangan Organisme Pengganggu Tanaman terutama untuk OPT yang berbanding lurus dengan kelembapan air, dimana dengan teknologi Jajar Legowo Kelembapan air dapat diturunkan sehingga serangan OPT juga dapat ditekan, seperti penyakit Hawar Daun yang disebabkan oleh bakteri Xanthomonas oryzae dan Penyakit Blast yang disebabkan oleh jamur Pyricularia oryzae.

Sehingga pemilihan varietas yang tahan terhadap penyakit diatas perlu dijadikan pertimbangan yang penting sebelum kita melaksanakan budidaya pertanian.

Semoga dengan pemahaman terhadap iklim terutama fonemena perubahan iklim global, dapat membuat kita lebih bijak dalam menerapkan teknologi dan berbudidaya pertanian sehingga dapat menghasilkan panen sesuai harapan kita. Demikian kajian ini semoga bermanfaat bagi petani di wilayah Kabupaten Kediri. (BM)

 

 

 

 pariwisata
 BKP3
 dikpora-link
 DISHUB2
disnakertrans-link
hutbun
kpm-link
KPPT
lpse-link